Alda Alfath Pebriani Rahmansyah - 250201010113
Pernahkah
Kamu Merasa "Hampa" Setelah Berjam-jam Menatap Layar?
Jempolmu masih terus bergerak. Layar terus berganti. Dan di dalam dirimu, sesuatu perlahan ikut menghilang. Kita hidup di tengah arus informasi yang hampir tidak pernah berhenti. Dalam beberapa detik, kita dapat melihat berita yang menyedihkan, lelucon yang menghibur, kehidupan orang lain yang tampak sempurna, bahkan seseorang yang sedang menangis. Semuanya datang silih berganti, lalu kita geser lagi.
Pernahkah setelah berjam-jam menatap layar, kamu justru merasa hampa? Bukan sedih, bukan juga bahagia atau marah. Hanya hampa seolah setelah melihat begitu banyak hal, kamu justru semakin jauh dari dirimu sendiri. Dua jam berlalu tanpa terasa, dan ketika ponsel akhirnya diletakkan, tidak ada perasaan yang benar-benar terasa utuh.
Pengalaman seperti ini dapat terjadi ketika kita menerima terlalu banyak informasi dalam waktu singkat, sementara kita tidak memberi cukup ruang untuk berhenti dan memahami apa yang sebenarnya sedang dirasakan. Perasaan yang diabaikan bukan berarti hilang. Sering kali, ia hanya belum mendapatkan kesempatan untuk dikenali dan dipahami.
Ketika Perasaan Tidak Menemukan Ruang, Tubuh Berbicara
Kita sering mengira bahwa emosi hanya berada di dalam pikiran. Padahal, pengalaman emosional juga dapat terasa melalui tubuh. Seperti dibahas oleh Bessel van der Kolk (2014), pengalaman yang tidak dipahami dan diproses dapat tercermin dalam respons tubuh.
Kadang tubuh lebih jujur daripada layar. Kita mungkin mengatakan bahwa kita baik-baik saja, tetapi tubuh menunjukkan hal yang berbeda: rahang yang menegang saat tidur, napas yang menjadi pendek, dada yang terasa sesak, kepala yang berat, atau tubuh yang terus-menerus lelah. Hal-hal tersebut tidak selalu berarti satu penyebab tertentu, tetapi dapat menjadi pengingat bahwa tubuh dan pikiran kita membutuhkan perhatian.
Penjelasan tentang empati dari Konrath, O'Brien, dan Hsing (2011) juga menunjukkan pentingnya kehadiran dalam memahami perasaan orang lain. Memahami manusia tidak hanya membutuhkan kata-kata, tetapi juga ekspresi wajah, perubahan nada bicara, tatapan, dan keheningan. Ketika interaksi terlalu sering berlangsung melalui layar, sebagian pengalaman manusiawi tersebut dapat menjadi lebih samar.
Di sinilah persoalan ini menjadi lebih dari sekadar kebiasaan menggunakan media sosial. Persoalannya menyentuh cara kita memperlakukan diri sendiri dan orang lain sebagai manusia. Di tengah kehidupan digital yang serba cepat, kita membutuhkan ruang untuk hadir, mendengar, dan merasakan.
Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Kita tidak harus memusuhi teknologi atau berhenti menggunakan media sosial. Yang perlu dibangun adalah kesadaran bahwa tidak setiap rasa tidak nyaman harus segera dialihkan ke layar.
- Berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri. Luangkan beberapa menit tanpa ponsel. Tanyakan, “Apa yang sebenarnya sedang aku rasakan?” dan “Di bagian tubuh mana perasaan itu terasa?” Menyebutkan perasaan dengan kata-kata dapat membantu kita memberi bentuk pada pengalaman yang sebelumnya terasa samar, sebagaimana dibahas oleh Lieberman dkk. (2007).
- Memberi batas pada penggunaan media sosial. Membatasi waktu di media sosial dapat menjadi cara sederhana untuk mengembalikan ruang bagi diri sendiri. Salah satu langkah yang dapat dicoba adalah meletakkan ponsel setidaknya satu jam sebelum tidur, sehingga malam tidak selalu diisi dengan arus informasi baru.
- Melatih kepekaan terhadap tubuh. Luangkan beberapa menit dalam keadaan tenang dan perhatikan tubuh dari ujung kaki hingga kepala. Perhatikan bagian yang terasa tegang atau tidak nyaman. Latihan mindfulness yang dikembangkan Kabat-Zinn (2003) dapat menjadi salah satu cara untuk membangun kesadaran terhadap pengalaman saat ini.
- Menghadirkan kembali hubungan secara langsung. Ada hal-hal yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh layar. Tatapan mata, suara, ekspresi, dan kehadiran seseorang secara langsung dapat memberi pengalaman kedekatan yang berbeda. Prinsip ini sejalan dengan pembahasan Porges (2011) mengenai sistem saraf dan rasa aman dalam hubungan.
- Mengizinkan diri merasakan sesuatu yang tidak nyaman. Ketika sedih datang, kita tidak harus langsung membuka ponsel. Ketika kecewa muncul, kita juga tidak harus segera menuliskannya di media sosial. Duduk sejenak bersama perasaan itu, menarik napas, mengenalinya, dan membiarkannya hadir adalah bagian dari proses memahami diri.
Tubuhmu Tidak Bisa Disembunyikan di Balik Gambar yang Indah
Kamu bisa tersenyum di setiap foto yang dibagikan. Kamu bisa menulis kalimat yang terlihat bahagia. Kamu bahkan bisa terlihat baik-baik saja di hadapan semua orang. Tapi tubuhmu tahu. Bagaimana dengan rahangmu yang menegang saat tidur? Dada yang terasa sesak tanpa alasan yang jelas? Atau tubuh yang terus merasa lelah? Kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa semua gejala tersebut berasal dari emosi, tetapi kita juga tidak seharusnya mengabaikan pesan yang diberikan tubuh.
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk melihat kehidupan orang lain melalui layar sampai lupa melihat kehidupan yang sedang berlangsung di dalam diri sendiri. Di tengah dunia yang terus meminta kita untuk melihat layar, menjadi manusia mungkin berarti berani berhenti sejenak dan melihat ke dalam diri sendiri. Humanisme bukan hanya tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain, tetapi juga tentang bagaimana kita menghargai diri sendiri sebagai manusia yang memiliki perasaan, keterbatasan, kebutuhan akan kedekatan, dan hak untuk merasa.
Mulai secepatnya cobalah meletakkan ponselmu. Tidak perlu lama cukup beberapa menit. Dengarkan apa yang sebenarnya ingin dikatakan tubuhmu. Karena mungkin, selama ini bukan perasaanmu yang terlalu berat, melainkan kamu yang terlalu jarang memberi mereka ruang untuk didengar.
Referensi
Kabat-Zinn, J. (2003). Mindfulness-based interventions in context. Clinical Psychology: Science and Practice, 10(2), 144–156.
Konrath, S. H., O'Brien, E. H., & Hsing, C. (2011). Changes in dispositional empathy in American college students over time. Personality and Social Psychology Review, 15(2), 180–198.
Lieberman, M. D., et al. (2007). Putting feelings into words. Psychological Science, 18(5), 421–428.
Porges, S. W. (2011). The Polyvagal Theory. W. W. Norton & Company.
Van der Kolk, B. A. (2014). The Body Keeps the Score. Viking.
This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
0 komentar:
Post a Comment